KEKHAWATIRAN 1: NYINYIR

KEKHAWATIRAN 1: NYINYIR

2 Agustus 2017

 

Saya selalu punya kekhawatiran sebelum berangkat traveling. Meskipun suka banget jalan-jalan, tetapi ada-ada saja yang membuat saya khawatir dan merasa mulas sebelum meninggalkan rumah. Tetapi kekhawatiran mau berangkat haji ini berbeda. Salah satunya adalah balasan yang diberikan atas tindakan kita secara langsung ketika berada di tanah suci. Ga percaya? Silahkan. Tetapi saya percaya. Karena sudah mengalami sendiri saat Umrah. Dan banyak sekali orang yang bercerita tentang ini. Dari balasan kecil hingga besar.

 

Sebetulnya balasan ini tidak hanya saya alami dalam perjalanan ke tanah suci. Saya sudah beberapa kali mengalaminya juga dalam perjalanan lain, khususnya mendaki gunung, ditengah alam dan hutan. Itu sebabnya kalau di dalam hutan biasanya kita dipantangkan untuk berbicara yang buruk-buruk, karena bisa kejadian. Dan sekali lagi, saya sudah mengalaminya.

 

Jadi saya khawatir. Pasalnya saya harus mengakui bahwa saya ini nyinyir luar biasa. Rasanya penyakit itu  sudah ada bibitnya sejak saya duduk di bank  SMA. Saya ingat betul, setiap malam Minggu saya dan Ibu nonton acara Aneka Ria Safari di TVRI (wedeh, ktahuan umur deh!). Disitu Edisud pembawa acara akan mengetengahkan penyanyi-penyanyi aneka rupa diiringi dengan penari-penari latar. Sambil menonton saya akan mengomentari hampir semua penyayi, terutama penari latarnya. Entah gerakannya yang aneh, entah pakaiannya yang norak, atau warnanya yang bikin sakit mata. Kadang sampai Ibu mengingatkan kalau saya sudah keterlaluan. Herannya saya nonton terus sampai acara habis saban minggu. Mungkin karena itu satu-satunya siaran yang ada, juga karena saya ga di ‘apel’in. Selain malas pacaran, ayah saja juga galak. Jadilah acara tetap malam Minggu mengomentari pengisi acara Aneka Ria Safari yang tiap akhir performance diisi tepuk tangan panjang atas instruksi Edisud. Pikir-pikir yang kasihan itu Ibu saya, karena harus nonton sambil dengar kebisingan saya.

 

Setelah tamat kuliah dan kerja, sasaran nyinyir saya bukan manusia, tetapi bangunan. Saya ingat, suatu pagi saya jalan-jalan di perumahan mewah dekat rumah Ibu di Bandung yang rata-rata rumahnya bergaya klasik kriwil-kriwil. Semakin banyak tiang Romawi semakin terlihat megah semakin saya komentari dengan sengit. Sampai saya berkata “Biarpun diberi rumah kayak gini sih saya ga mau”. Lalu ibu saya menyahut “Kalau Mama sih mau”. Jawaban Ibu saya membuat saya terdiam. Karena jadi malu. Kok saya ini sepertinya sombong banget ya… Lagipula siapa yang mau kasih saya rumah? Mewah pula? Siapa elu?

 

Begitulah seterusnya, setiap kemanapun pergi, saya akan mengomentari rumah-rumah orang. Tentu saja komentar nyinyir ini tidak saya tulis dalam buku-buku saya. Bisa kapok si arsitek untuk berhubungan dengan saya. Tetapi di balik punggung mereka kenyinyiran saya tetap berlanjut. Nah, waktu Umrah, karma saya pertama adalah balasan atas kenyinyiran saya itu. Bayangkan, semua anggota rombongan mendapat tempat di hotel, saya malah “terbuang” di sebuah kamar diatas pasar yang yang panas, padat, dan pengap mirip pasar Tanah Abang. Kamar itu berada di lantai paling atas pasar. Kamarnya besar dan gelap hampir tanpa jendela. Setelah mulai terbiasa dengan kegelapan yang kontras dengan matahari luar yang sangat silau dan terik, saya baru melihat bahwa kamar ini berdekorasi bergaya 1001 malam. Dindingnya biru tua, dengan lukisan awan-awan serta bintang-bintang.  Kalau di Jakarta mungkin ini kamar bekas pub atau karaoke murahan. Ada enam tempat tidur spring bed disitu, padahal kami cuma bertiga: saya, suami dan Ibu. Ada dua lubang kecil mirip lobang angin kamar mandi. Saya terhenyak. Hari pertama berasa banget saya dapat karma atas kenyinyiran. Saya buru-buru sekuat tenaga menahan diri untuk tidak keluar sepatah katapun tentang ruangan yang saya dapat itu sambil istighfar dalam hati dan otak terus saya ajak  bernegosiasi “ikhlas.. ikhlas.. ikhlas…”  dalam hati saya. Saya satukan pikiran dan hati untuk ikhlas.  Saya berhasil. Lalu melirik suami. Sepertinya dia mengerti. Dan kami sama-sama tersenyum. Setelahnya saya malah bersyukur, dari lubang kecil yang bisa dilongok dengan memanjat kasur itu saya bisa melihat Ka’bah. Karena memang dekat sekali. Pemandangan yang sungguh menyenangkan dan saya syukuri. Sehingga saya berhasil melupakan dekorasi kamar tidur Alibaba yang menggangu mata ini.

 

Setelah tiga malam kami dipindahkan ke hotel lain yang sama dengan anggota rombongan kami. Hotel yang normal. Bukan diatas pasar dan kamarnya berdekor seperti hotel bisnis biasa. Alhamdulillah. Seingat saya itu satu-satunya balasan karma dunia yang saya terima. Tetapi cukup telak buat saya. Kenyinyiran saya jelas tidak diridhoi Allah dan alam semesta.

 

Nah, untuk keberangkatan haji, yang konon pembalasannya berlipat-lipat, saya jadi khawatir sekali. Apalagi sejak adanya socmed kenyinyiran saya juga merambat di media online yang penyebarannya lebih luas. Khususnya saat momen pilkada berasa pilpres yang lalu. Saya betul-betul harus sembahyang dan doa taubat sebelum berangkat! (i) #catatanharianhajiamatir #diaryhajiamatir

 

 

 

 

 

Advertisements

CATATAN HARIAN HAJI AMATIR

CATATAN HARIAN HAJI AMATIR

1 Agustus 2018

Kenapa saya bilang haji amatir? Pertama, karena saya bukan profesional. Jangankan profesional yang bisa mencari nafkah dari kehajian atau kemampuan agama. Ali haji tidak, apalagi ahli agama saja. Pengetahuan agama saya betul-betul cetek seperti halnya reflecting pool. Itu loh, kolam dangkal yang biasa di desain oleh arsitek penghias beranda atau taman. Kolam yang saking ceteknya tidak bisa dihidupi oleh ikan-ikan. Fungsinya adalah memberi keindahan. Oya, juga sedikit kesejukan, karena udara panas yang lewat melalui air menjadi turun suhunya. Ya, kemapuan agama saya masih jauh untuk memberi kehidupan, atau membantu orang lain dalam hidupnya. Saya akan bersyukur sekali kalau kepercayaan saya beragama bisa memberikan keindahan pada hidup saya dan keluarga. Dan syukur-syukur apabila cerita ini bisa menyejukkan.

Kedua, karena kata amatir itu melekat pada orang-orang yang belajar, baik baru belajar, maupun mau terus belajar. Untuk saya, cocok di sebut yang baru belajar. Belajar bisa di usia kapan saja kan? Dan belajar adalah kegiatan yang selalu menggairahkan. Belajar artinya kita menemukan hal-hal yang baru, meski dari cerita yang paling lama sekalipun.

Mengingat akan menemukan sesuatu yang baru dalam belajar inilah yang membuat hati saya menjadi gembira, dan juga bersemangat. Semoga semangat belajar hal baru ini memperlancar perjalanan haji saya, sebagai haji amatir.

Tetapi jangan dikira saya tidak punya kekhawatiran. Mengingat nanti akan berkumpul di sebuah tempat asing bersama 3-4 juta orang lainnya dari seluruh dunia di padang tandus yang panas bukan gambaran yang melegakan. Apalagi peringatan panas akan mencapai 52 derajat celsius dan ancaman tubuh mudah sakit bukan peringatan main-main. Khususnya bagi yang mengambil program haji reguler yang akan tinggal tinggal disana selama 41 hari. Segala macam nasihat sudah saya dengar, catat, dan cermati baik-baik. Dan catatan perjalanan ini nanti akan berfungsi sebagai tumpahan dari segala pengalaman, isi kepala dan hati saya, sebagai seorang haji amatir (i) #catatanharianhajiamatir #diaryhajiamatir

SUPER SOPANNYA ORANG JEPANG

“Orang Jepang terrrrrrrlalu sopan” komentar teman saya Djuhara di sebuah pertemuan. Dikatakan begini biasanya orang Jepang hanya senyum-senyum simpul saja tanpa menjawab apapun (juga karena saking sopannya). Saya juga mengalami hal ini saat ke Jepang.

Salah satu yang paling nyata dari sopannya orang Jepang adalah menundukkan badan untuk memberikan salam yang mereka sebut sebagai…. Misalnya nih kalau kita naik kereta, maka kondektur dan semua staf berseragam itu akan menunundukkan badan dalam-dalam saat membuka pintu gerbong. Tidak peduli jam berapa dan penumpang penumpangnya sedang apa. Misalnya jam 3 pagi saat penumpang semua tidur, mereka akan tetap terus melakukan itu, masuk dan keluar gerbong, setiap gerbong! bayangkan panjangnya gerbong kereta dan mereka lakukan berkali-kali.

Jika berpisah ramai-ramai, di airport misalnya, maka rombongan orang Jepang itu akan membuat lingkaran, dan mengucapkan kata berpisah dengan menundukkan badan secara serentak. Semakinb besar rombongan, maka semakin besar lingkaran tersebut. Jika banyak rombongan, maka kita akan melihat banyak lingkaran-lingkaran orang-orang Jepang yang akan saling berpisah. Oya, tidak ada cipika cipiki, juga peluk dan dadah dadah melambai-lambai tangan. Setelah selesai menundukkan kepala, mereka dengan segera masuk ke airport dengan tertib, tanpa bersuara.

Menundukkan kepala ini seringkali tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, terutama jika anak buah berpisah dengan bossnya. Anak buah akan berhenti menundukkan kepala jika si boss sudah tidak membalas lagi tundukkan kepala si anak buah. Pernah saya hitung, masing-masing menundukkan kepala sampai sembilan kali! Wah… lumayan sebagai pengganti senam pinggang.

Di kereta, atau di transport publik lainnya, orang Jepang akan menempati hanya satu jatah kursi. Tidak peduli bawaan mereka serepot apapun, termasuk saat membawa koper sekalipun. Mereka akan berusaha serapi-rapinya menduduki jatah satu kursi saja, dan duduk dengan kaki serta tangan rapat-rapat, seperti khawatir mengganggu penumpang di sebelahnya, meski bangku sebelah kosong sekalipun. Sedangkan dari negara lain? kalau banyak barang bawaan, maka akan segera bawaan tersebut menempati sekian banyak tempat duduk, tergantung sekian banyak bawaan mereka. Kadang sampai meleber menutupi gang jalan

Oya, kita juga tidak akan melihat orang Jepang makan sambil berjalan. Mereka hanya makan saat duduk. Di mal-mal akan tersedia kursi-kursi dan meja untuk duduk dan makan. Setelah makan, maka mereka akan membersihkan sendiri meja tersebut sampai sebersih-bersihnya. bahkan saya juga sering melihat tamu hotel mengelap meja mereka setelah makan. Rapi jali, tanpa setitik remahpun tertinggal.

Tetapi yang paling aneh bagi saya adalah kesopanan orang Jepang saat di toilet. Bagi orang Jepang, mendengar bunyi-bunyian buang air seperti pipis apalagi bunyi ‘plung!’ pupup itu dianggap kurang sopan. Maka, di toilet umum akan tersedia tombol-tombol bunyi-bunyian, selain tombol air cebok. Bunyi-bunyian juga ada pilihan, ada bunyi seperti air mengalir dari keran, ada bunyi burung bersiul, ada bunyi musik juga. Jadi, sebelum orang Jepang mengeluarkan bunyi-bunyian buang air, dengan segera dia akan memencet tombol bunyi-bunyian lain utuk menutupi bunyi-bunyian dari tubuh manusia. Yang paling banyak dipilih sih bunyi air mengalir, tapi saya paling senang memencet bunyi musik, sekalian menghibur di dalam toilet. Sedangkan bunyi burung bercicit buat saya agak menggelikan, apalagi membayangkan kalau itu burung manusia yang sedang bercicit.. hehehe…

Super Rutin Jadwal Hidup Pat

“Jam berapa kamu bangun pagi?”
Itu adalah pertanyaan Pat yang diulang-ulang kepada saya dalam minggu pertama saya tinggal di lantai dua rumah berlantai kayu warisan Ratu Victoria ini. Pat bertanya berulang kali bukan karena dia tua lalu menjadi lupa. Tetapi sayalah yang belum juga menjawabnya dengan pasti. Saya bukanlah orang yang punya rutinitas hidup yang pasti dan terus berulang melakukannya sama setiap hari. Saya bisa bangun dan tidur sesuka hati. Maksudnya, saya tidak punya aktifitas tetap yang yang dilakukan dalam waktu yang tepat sampai ke jam dan menitnya.

Saya mengerti Pat menjadi gelisah tentang hal ini. Sebagai orang Inggris yang pernah bersuamikan orang Jerman dan tinggal di negri Hitler itu selama sepuluh tahun membuatnya menjadi manusia yang punya rutinitas tetap seperti robot dengan ketepatan waktu yang super. Pat bangun setiap pagi jam 6, satu jam kemudian setelah sarapan ia keluar rumah menuju taman untuk membawa Joey, anjingnya yang berwarna cokelat berjalan dan buang hajat. Tentu saja ia tak lupa membawa kantong plastik untuk memungut berak anjing kesayangannya dan membawanya pulang ke rumah. Tepat jam delapan pagi, ia sudah duduk manis menonton televisi dengan daftar jadwal acara TV di genggamannya. Pada saat itulah waktunya saya terbirit-birit menyelesaikan sarapan dan berlari ke stasiun kereta. Sedangkan Pat tidak pernah terburu-buru karena selalu tepat waktu.

Dahsyatnya lagi, keluar rumah dengan Joey selalu pada jam dan menit yang sama tidak peduli cuaca sedang seperti apa. Ia tetap keluar pada tersebut tanpa menunda satu detik pun meski udara sedang dingin menggigit, angin kencang, panas menyengat, hujan, bahkan salju sedang turun sekalipun!.

Dari Senin sampai Minggu.

Pada saat musim dingin tiba, Joey akan mengenakan jaket winter dari wool bermotif kotak-kotak merah hitam khas scotland yang di desain khusus untuk anjing. Perlu waktu yang lama mengenakan jaket dengan tali-tali pengikat di perut anjing teresebut. Ia melakukan nya dengan sangat telaten. Sedangkan saya? Kalau tidak terpaksa demi waktunya sekolah, saya pasti malas keluar dari rumah dengan harus mengenakan pakaian berlapis-lapis (buka baju saja segan) dan sepatu boot kulit selutut hanya demi mengantar anjing berak di taman. Saya memilih kembali meringkung dibalik selimut.

Hari Jum’at Pat akan membawa keranjang belanja berodanya. “Ini harinya saya makan Turkey panggang, sekali dalam seminggu” Ujarnya. Dan itu juga menjadi jadwal rutin yang tidak bisa digeser.
“Kalau begitu hari lain makan apa?” tanya saya bloon
“Sandwich”
Saya bengong, membayangkan makan siang hanya dengan roti lapis. Kering, tak berkuah, apalagi berbumbu heboh seperti masakan Indonesia. Sedangkan saya? jangankan menu makanan. Jadwal makan pun sesuka hati, dan saya tidak pernah makan makanan yang sama selama tiga hari berturut-turut, apalagi diulang berminggu-minggu dan tahunan. Wuih!

Oya, setelah beberapa minggu, Pat kelihatan bosan bertanya jam berapa saya bangun. Kelihatannya ia mulai memaklumi ketidak teraturan hidup saya (setidaknya menurut ukurannya). Lagi pula, derik kaki saya menginjak lantai kayu sudah memberikan tanda baginya, bahwa saya sudah terbangun.

Pat – Pertemuan Pertama

“Bang bang bang!!!”
Pintu berkaca itu digedor keras sekali, sampai saya bisa merasa getarannya. Saya berlari ke bawah, dan buru-buru membukanya.
“Saya seperti mendengar gajah berlari-lari diatas kepala saya” Katanya.
Tentu saja saya tidak memelihara gajah di rumah, itu kata-kata dramatisasi yang memang biasa diungkapkan oleh para British.

Dia adalah Pat, tetangga baru saya (sesungguhnya saya yang orang baru), seorang perempuan tua (sepertinya usianya sama dengan ibu saya, entah, saya tidak pernah tanya). Dan ini adalah pertemuan pertama saya dengan tetangga di bawah. Tidak terlalu menarik, tetapi saya berusaha tidak terkejut untuk mengurangi rasa tegang teman saya yang baik hati (tetapi sudah pucat pasi) dengan anaknya yang terlalu lincah berlari ditasa lantai kayu.

Rumah ini memang aneh pembagiannya. Di bawah dan atas berbeda pemilik, padahal satu unit rumah, rumah tua, warisan jaman ratu Victoria sehingga disebut sebagai Victorian House. Rumah-rumah kopel kecil untuk rakyat menengah bawah di jamannya. Di jamannya, konon ini rumah gratis (social housing) yang dibagikan untuk rakyat. Di jaman sekarang sudah bisa dibeli, dan menjadi mahal sekali, bahkan setelah bagi dua. Jadi lantai atas dan bawah berbeda pemilik. Entah bagaimana ceritanya, landlord saya memiliki unit di atas, satu kamar tidur dengan ruang duduk, dapur dan kamar mandi kecil. Dibawah, Pat mendapatkan luas rumah yang sama, plus teras depan serta private garden di bagian belakang. Saya kebagian jalan setapak kecil dan koridor menuju tangga ke atas. Masalahnya, lantai atas terbuat dari kayu yang sepertinya belum pernah diganti sejak dibangun, sehingga jalan berjingkat saja sudah berderik-derik bunyinya, apalagi suara kaki yang berlari, mirip dentuman kaki gajah. Setidaknya begitulah menurut Pat.

Saya buru-buru minta maaf. Dan ia pun tidak terlihat marah, hanya menegur (dengan gebukan kaca yang sangat keras?). Anyway, ketenangan saya menyambutnya tidak sia-sia, Pat mengenalkan diri dengan baik-baik.

“Pat, Patricia Schmith. Tetapi panggil saja saya Pat” Katanya sambil mengulurkan tangan.
Ya, masyarakat London memang cukup egaliter, mereka tidak mengenal perbedaan umur, kepada yang lebih tua, kita dapat memanggil dengan nama kecilnya saja.

Pat menjadi tetangga terdekat saya dalam kurun satu tahun saya tinggal di London. Ia adalah perempuan tua, janda dari suami orang Jerman, yang tinggal sendirian. Oh, tidak, ia tinggal bersama seekor anjing, bernama Joey.

Yang semuanya akan saya ceritakan di posting berikutnya.

Mrs Smith di Hawthorn

Saat tinggal di apartemen di daerah Hawtorn Melbourne, saya bertetangga dengan seorang nenek yang sangat tua. Tubuhnya bungkuk, kulitnya putih pucat berkeriput, bahkan keriput diwajahnya selalu mengingatkan saya akan retak-retak tanah gersang tandus di Gunung Kidul. Tetapi matanya yang hijau masih bening dan memancarkan sinar semangat. Bibir tipisnya selalu tersungging senyuman.

Mrs Smith tinggal seorang diri bersama seekor kucing putih. Karena bersebelahan, dari jendela dapur saya dapat melihat kegiatan rutin pagi Mrs. Smith bersama kucingnya: duduk di meja makan dan sarapan dengan tenang. Tak pernah saya lihat ada anak atau keluarga mengunjungi beliau. Memang sangat biasa orang tua tinggal sebatangkara di benua maha luas ini. Kesepian bukan lah bahan pembicaraan sehari-hari.

Kami menghuni lantai tiga tanpa lift. Setiap jam dua siang saya melihat Mrs Smith berjalan bertongkat lambat-lambat menuju tangga, turun ke bawah ke kotak pos. Apabila berpas-pasan, dia akan segera berhenti dan merapat kepinggir seraya berkata:

“Silahkan duluan, saya berjalan sangat lambat”

Saya mengucapkan terima kasih sambil melanjutkan naik atau turun tangga dengan kebiasaan setengah berlari-lari. Tentu saja saya merasa tidak enak hati melihat Mrs Smith berjuang keras untuk turun hanya untuk melongok kotak posnya. Sehingga pertama kali berpas-pasan saya langsung menawarkan jasa mengambilkan surat, yang saya yakin kurang dari 5 menit akan mendarat dengan selamat di atas meja makannya. Tetapi jawaban Mrs Smith mengagetkan:

“Tidak Imelda, ini adalah latihan menggerakkan badan saya setiap hari”

Ya. Orang tua disini banyak yang tinggal sendiri, mandiri dan juga tidak bersedia ditolong selagi masih mampu. Mereka tegar, kuat, tidak cengeng.

Suatu waktu, dalam 3 hari saya tidak melihat Mrs. Smith, dan dihari ketiga, saya melihat pengantar belanjaan dari supermarket menggeletakkan antarannya di depan pintu (dia berlangganan pesan antar untuk kebutuhan sehari-hari). Leher saya tercekat, ada rasa khawatir yang amat sangat. Saya longok-longok jendela apartemennya. Kosong. Kucing putih yang biasa bertengger di meja makan juga tak ada. Saya urung melapor polisi.

Esok pagi saya melihat belanjaan sudah tak ada di pintu. Buru-buru saya ketuk pintunya. Mrs Smith keluar dan terheran-heran melihat saya yang berwajah tegang, lalu menjawab pertanyaan saya santai.

“Ah, saya mengunjungi anak saya beberapa hari ini”

Oh… Mrs. Smith…

TAXI KYOTO

Bukti begitu bersih dan rapinya orang jepang salah satunya bisa dilihat dari taksi dan supir taxi. Di Kyoto, saya berkesempatan naik taxi menuju Gion di pusat kota.

Setelah memberikan instruksi saya mulai memperhatikan taxi yang kita tumpangi. Supir taxi adalah seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam selaras dengan pantalon yang disetrika licin dengan kemeja putih berikut dasi hitam. Necis. Seperti umumnya orang Jepang yg saya lihat sehari hari, pakaian yang dikenakannya terlihat baru setidaknya tak nampak sama sekali tanda2 lusuh, atau mau lusuh, yang biasa kita jumpai pada pekerja blue collar (ini jelas2 jadi sangat tidak tepat mengatakan supir taxi Jepang dengan sebutan blue collar karena jelas jelas dia mengenakan kemeja yang putih warna kerahnya 🙂. Tapi yang membuat saya lebih heran adalah sarung tangan putih yang dikenakannya. Ya, hampir setiap supir taxi disini mengenakan sarung tangan putih yang langsung mengingatkan saya pada Michael Jackson. Rasanya berlebihan. Sarung tangan putih itu pun putih bersih seperti baru meski setiap saat ia menerima dan mengembalikan uang receh dari penumpangnya.

Setelah supir pengamatan saya berlanjut ke dalam mobil. Semua permukaan sekali lagi bersih, mengilat, tanpa Ada sedikitpun permukaan yang coel, terkelupas. Licin, bening seperti halnya semua permukaan kamar mandi kubikel plastic di kamar mandi hostel, toilet umum di mall, dan permukaan daun meja di warung makan. Sempurna tanpa cela. bahkan kesempurnaan kerapian Dan kebersihan ini disempurnakan lagi oleh hadirnya penutup bahu kursi supper Dan tempat duduk penumpangnya yang berlapis bordiran motif bunga bunga yang, demi Tuhan, terlalu indah untuk mobil mewah pribadi sekalipun!

Yang saya heran, bukan hanya keindahan dari kelengkapan ini, tetapi usaha merawat segalanya jadi tampil indah sempurna. Naik taksi serasa dihargai seperti raja dan ratu sesaat. Ingin rasanya memperpanjang kenikmatan ini tidak mengingat argo yang selangit buat kocek orang Indonesia seperti saya.

Bagaimana dengan taxi kita?

SUATU HARI DI SEBUAH DESA TERPENCIL DI CINA SELATAN

Di sebuah desa terpencil di Yunnan, Cina Selatan yang tidak terjangkau oleh transportasi yang mudah, saya bertemu dengan seorang backpackers perempuan seorang diri dengan ransel menjulang di punggungnya bertanya kepada saya dimana ada penginapan (mungkin karena dia yakin saya juga pendatang yang bisa berbahasa Inggris). Saya tunjukkan salah satu tempat yang saya sempat lihat menerima homestay. Dan saya katakan:

“Anda dari mana?” Tanya saya
… dia menyebut salah satu negara Eropa
“Dengan apa Anda kesini?”
“Lima kali bergantii kendaraan. Saya berangkat subuh, ini baru sampai” Jawabnya

Matahari sedang terbenam, dan sesungguhnya saya sedang terbirit-birit mencari teman lainnya karena terpisah akibat keasyikan ngobrol di rumah salah satu penduduk.

“Anda pemberani sekali” kata saya menatapnya
“Kamu juga” dia balas menatap saya

“Ah, tidak” kata saya mengalihkan mata saya ke arah lain. “Saya kesini naik bus, bersama 25 teman lainnya…”

Saya jadi sungguh malu. Cengeng. Mengingat sejak kemarin saya mengiba-iba ke rombongan dan guide kami agar mau melenceng dari jadwal demi mampir di desa terpencil yang cantik ini, dimana belum tentu anggota rombongan lain ‘senang’.

Kapan saya bisa jadi pemberani seperti perempuan backpackers itu?

PAPUA WAMENA LEMBAH BALIEM-Potongan catatan

Potongan Catatan perjalanan Jayapura-Wamena-Lembah Baliem

10-16 Agustus 2013

Airport Wamena-terbakar 2 th lalu kondisi masih seperti kandang babi. Mana pemerintah??? tidak ada toilet. Bangunan permanen justru milik polisi. Padahal sehari ada puluhan pesawat mendarat, penumpang dan cargo. Sebagian besar pengunjung festival adalah wisman. 

Penerbangan di Wamena-beda, segala tak pasti, penerbangan tergantung: ketersediaan pesawat, pilot, cuaca cerah yang sering berubah2 (lihat bukit di Jayapura sebagai pertanda), pejabat atau polisi yang menyela akan pergi. 

Benda modern pertama yang dilihat orang pedalaman Papua adalah pesawat terbang. Loncat, sebelum mereka mengenal sepeda, becak, motor, mobil, pesawat terbanglah yang masuk ke pedalaman. 

Noken: kantong pengisi, tas, baju, gendong bayi, gendong babi, pengangkut hasil bumi, kantong jualan, almari rumah, dilipat kecil, dibuat dari batang pohon, pewarna alam, motif penanda, pewarna kulit anggrek kuning, dipakai dikepala, berbagai ukuran, berbagai bentuk, sangat kuat, tali tipis, berbagai bentuk anyaman. Mendapat penghargaan UNESCO award untuk karya budaya tak benda. 

Karapan babi: babi mengekor pemilik, babi disusui manusia, babi adat moncongnya pendek

Bakar Batu, delicious slow cook

Compound Suroba. Punya segala, letak di balik bukit batu menjulang, pemandangan indah bagai lukisan Monet dengan rumpun2 rumput warna warni, melewati dua sungai, jembatan satu papan kayu, hutan pinus yang cantik, compound adat yang bertahan, kepala suku berfikiran terbuka, warga suku yang bisa bekerja sama, ramah, penolong, bersahabat. Rumah adat unik yang bertahan, homestay di Honai. Tari perang yang luar biasa. All live show!

Perang Suku-pemicunya babi atau perempuan, keduanya sangat berharga bagi orang Papua. Bukan karena perebutan lahan, perbedaan agama/ideologi, atau perebutan kekuasaan. 

Wamena tidak aman: cerita2 dari Pak Toni (driver), banyak tukang ojek terbunuh, takut jalan setelah gelap

Orang Papua tidak miskin: jika dibagi rata satu orang … km2, makanan tidak beli, tinggal ambil di tanah, baju tidak beli, tinggal membuat dari tanaman, rumah tidak beli-membuat dari kayu dan alang alang, alat perkakas tidak beli-dibuat dari batu-batuan. Dimana lagi bisa dapatkan udara bersih-sebersih bersihnya? Dapatkan kayu kualitas terbaik di dunia, menikmati satwa paling langka sejagat setiap hari? 

Harusnya jika memang bumi ini butuh hutan tropis untuk paru paru dunia, jangan sentuh pulau dan manusia Papua. Mereka paling juara menjaga alam. Biarkan mereka memilih untuk terus berdampingan dengan alam terbuka, menjaganya, mengurusnya, menurunkannya ke anak cucu. 

Orang Papua tidak bodoh: mereka memiliki kejeniusan yang diperlukan untuk hidup di alam.  

Dandan orang Papua-mengikuti binatang, jambul bulu burung, lukisan badan motif macan/harimau, ekor dari daun atau dari binatang, dasi kepala suku, jambul kepala, topi buku ayam, ikat tangan bulu ekor anjing, piercing hidung taring babi

Koteka adalah pakaian! ketika mereka memakai celana tanpa koteka justru mereka merasa telanjang. 

Potong jari tanda duka

Murahnya nilai uang di Papua. Mereka hanya mengenal Satu, dua, tiga, tiga satu, tiga dua, tiga tiga dan banyak. Mereka hanya mengenal harga sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, dua ratus, empat ratus, tujuh ratus, empat juta! Pendatang/turis lah yang mengenalkan uang ke orang pedalaman Papua

Tentara– ingin mengubah orang Papua jadi berbudaya menurut ukurannya: diberi baju, gatal karena tidak dicuci, mencuci-perlu sabun, sabun? mereka harus beli, mereka terpaksa mengenal uang.

TNI berlebihan–turunkan polisi dan pasukan berpakaian hitam dengan senjata2 laras panjang. Berdiri dekat dekat dengan wisatawan dan peserta festival (bocooor!) ikut foto bersama (norak!) harusnya mereka bisa lebih santun, misalnya berjaga dengan diam dan tanpa kelihatan. Jika diperlukan baru datang.  

Misionaris–Pengalaman dari STKIP, mereka diasramakan, diperkenalkan (dibiasakan) hidup seperti orang modern: mandi dari bak air, buang air di kloset, menggunakan pakaian modern, mencuci, tidur di tempat tidur/kasur. Lah? bagaimana mereka bisa kembali ke alam untuk mengajar warga pedalaman. Tentu saja kebanyakan dari mereka enggan kembali ke pedalaman!!  Orang kota seringkali merasa dirinya yang paling benar. 

 

OPM

Stigma Kanibal

Desa Tobati: Rumah adat yang hilang. Konon disini cikal bakal kota Jayapura. Dimana orang berlabuh. Rumah adat dibakar oleh misionaris protestan karena rumah berisi perangkat2 animisme, puritan, harus dibersihkan. Lucunya rumah adat ini menjadi logo PERSIPURA, ditiru bangunan2 pemerintah, hanya berdasarkan foto orang Belanda. Rumahnya sendiri sudah tidak ada. Mau dibangun kembali? untuk siapa? untuk apa? Harus bisa dijawab terlebih dahulu agar tidak menjadi dead monumen. Monumen mati. 

FN-Nah ini wisatawan yang paling aneh. Datang hanya untuk semata mendapatkan foto foto fenomenal, dramatis, dan diatur! Memotret dari sudut tertentu, bergerombol, ribut bicara tentang lensa dan teori teori memotret amatiran. Kamera super besar, teriak teriak apabila ada yang berdiri di seberang mereka karena ingin mendapatkan foto foto seolah olah alami. (woooooiiii! semua orang juga tahu kamu ada di festival!!!). Menganggap manusia Papua hanya sebagai obyek, benda mati. Tidak interaktif, tidak mengamati arti, tidak berusaha mengerti budaya. Memotret dari jarak 20 cm dan berbondong bondong. Idih banget!

Salon foto: lebih parah!

 

 

PERANG SUKU DANI DI LEMBAH BALIEM WAMENA

Perang suku adalah tradisi yang mengakar bagi suku Dani, penghuni Lembah Baliem, Papua. Perang terjadi umumnya bukan karena perebutan tanah, perebutan kekuasaan pemerintahan atau pemaksaan ideologi seperti agama. Bagi masyarakat Dani, tanah melimpah ruah. Pulau yang luasnya 20% dari seluruh daratan Indonesia ini hanya dihuni oleh 1% warga negri. Bayangkan, jika dibagi rata, maka satu manusia dapat menduduki … km2. Demikian juga pemerintahan. Kepala suku adalah kepala pemerintahan lokal absolut yang dihormati, dihargai dan dipatuhi perintahnya. Agama? diperkenalkan oleh misionaris Katolik dan Kristen, kedua agama itu membagi wilayah dengan cukup tertib, sebagian dari populasi penduduk Lembah Baliem menganut agama tersebut, tetapi masih lebih banyak …. adat mereka.

Jadi, persoalan paling umum pemicunya terjadinya perang suku ada dua hal: perempuan dan babi. Hal tersebut selain didapat dari cerita, juga bisa dilihat dari 40 storyline pertunjukan Baliem Festival yang diadakan pada tanggal… 

 

 

Memang kini perang suku bisa dilihat menjadi atraksi turis. Namun bukan berarti …. sudah bebas dari tradisi ini. Masih ada satu dua  perang suku terjadi. Penduduk Lembah Baliem adalah manusia yang selalu siaga terhadap hal ini. Ditambah lagi ada OPM, orang mabuk, wamena memang tidak 100% aman. Tetapi seperti slogan wisata negri ini: Indonesia: beatifully dangerous dalam banyak arti. Di jaman orang mencar sesuatu yang mampu meningkatkan adrenalin dalam berwisata, ini memang salah satu yang dicari

 

Program TV Don’t tell my mom I have been here..

 

Buktinya masih banyak orang berbondong bondong datang kesini.

 

Ada dua orang Tokyo yang memulai perjalanan 6 bulannya dari Wamena!